أبوفقيه Amaz

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Tafsir Surat Al-Insyiqaaq ayat 1-15

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (1) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2) وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (5) يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ (6) فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (8) وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا (9) وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13) إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ (14) بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا (15)

“Apabila langit terbelah,” (QS. 84:1)
“dann patuh kepada Rabb-nya, dan sudah semestinya langit itu patuh,(QS. 84:2)
“dan apabila bumi diratakan,” (QS. 84:3)
“dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,(QS. 84:4)
“dan patuh kepada Rabb-nya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).”(QS.84:5)
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan rnenemui-Nya.” (QS. 84:6)
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, “(QS. 84 :7)
“Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,” (QS. 84:8)
“dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. 84 : 9)
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang,” (QS. 84 : 10)
“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” (QS. 84:11)
“dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (naar).” (QS. 84:12)
“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergernbira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. 84:13)
“Sesungguhn.ya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabb-nya).” (QS. 84:14)
“(Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabb-nya selalu melihatnya.” (QS. 84: : 15).

Tafsir basmalah telah dijelaskan sebelumnya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

“Apabila langit terbelah,” (QS. 84:1).


انْشَقَّتْ

artinya merekah dan terbelah, seperti yang disebutkan ayat lain:

“Dan apabila langit telah dibelah,” (QS. Al-Mursalaat: 9)

ayat lain disebutkan pula:

“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.” (QS. Ar-Rahmaan: 37-39).

Jadi, langit akan terbelah pada hari kiamat nanti.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا

“Dan patuh kepada Rabb-nya,…” (QS. 84 : 2).


أَذِنَتْ maknanya menyimak dan mematuhi perintah Rabnya Azza Wa Jalla agar ia terbelah, maka langit pun terbelah. Padahal sebeIumnya langit itu kokoh, seperti yang disebutkan sifatnya dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.:

“Tujuh buah (langit) yang kokoh,” (QS. An-Nabaa’: 12).

Langit juga kuat, seperti yang disebutkan dalam ayat lain:

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 47) .

Yakni dengan kekuatan. Langit yang kuat lagi besar ini akan terbelah dan merekah pada hari kiamat nanti dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:


وَحُقَّتْ

“…dan sudah semestirnya langit itu patuh” (QS. 84 : 2).

Yakni, sudah selayaknya ia mendengar dan mentaati perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Karena yang memerintahkannya adalah Rabb dan Penciptanya Subhanahu Wa Ta’ala. Langit akan mendengar dan taat, sebagaimana pada awal penciptaannya langit juga mendengar dan taat. Pada saat awal penciptaannya Tabaaraka wa Ta’aala berfirman:

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (QS. Fushshilat:11).

Maka perhatikanlah wahai sekalian manusia yang lemah, bagaimana keadaan makhluk-makhluk yang besar ini? Mereka mendengar dan taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ketaatan yang agung di awal penciptaan dan di akhirnya.
Di awal penciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. berfirman:

“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (QS. Fushshilat: 11).

Dan di akhir penciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. berfirman:

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (1) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2)

“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabb-nya, dan sudah semestinya langit itu patuh,” (QS. 84:1-2).

Yakni, sudah selayaknya langit itu mendengar dan patuh. Kemudian Allah mengulanginya sekali lagi: “dan patuh kepada Rabb nya, dan sudah semestinya langit itu patuh,” sebagai penegasan bagi ketaatan dan kepatuhan langit kepada Rabb-nya. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3)

“Dan apabila.bumi diratakan,” (QS. 84:3).

Bumi yang kita tempati sekarang ini tidaklah rata. Alasannya:
Pertama, bumi ini bulat meski kutub utara dan kutub selatan sedikit lancip -yakni agak memanjang sedikit- namun dapat kita katakan bulat.
Kedua, bumi ini juga tidak datar, ada dataran tinggi dan ada dataran rendah, ada lembah, ada tanah datar dan ada pula gurun pasir. Bumi ini tidaklah rata dan datar. Akan tetapi pada hari kiamat nanti bumi akan diratakan: “Apabila bumi diratakan,” (QS. 84: 3).
Yakni, akan diratakan seperti kulit yang dibentangkan bumi seperti permadani kulit atau taplak meja yang digelar. Akan diratakan sehingga semua makhluk yang berada di atasnya dapat mendengar seruan penyeru dan dapat terlihat oleh pandangan mata. Sekarang ini kita tidak dapat memandang dengan bebas. Jika seseorang berdiri di atas bumi sekarang ini maka Anda dapati yang jauh dan berada di tempat yang rendah tidak akan dilihat. Akan tetapi pada hari kiamat nanti semua akan diratakan sehingga orang yang jauh seperti orang yang dekat, seperti yang disebutkan dalam hadits:

“Allah akan mengumpulkan seluruh manusia dari awal sampai akhir di tempat yang satu. Para penyeru dapat memperdengarkan suaranya kepada mereka semua dan dapat terlihat oleh pandangan mata.”

Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ

“Dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,”(QS. 84:4).

Yakni, bumi akan memuntahkan jasad-jasad bani Adam pada hari kiamat nanti. Jasad-jasad ini akan dibangkitkan dari kuburnya menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Sebagaimana Allah memulai penciptaan mereka pertama kali. Yakni, sebagaimana mereka keluar dari perut ibu mereka, dalam keadaan seperti itu pula mereka akan keluar dari perut bumi. Engkau keluar dari perut ibu dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat dan tidak berkhitan. Kecuali sebagian orang yang terlahir dalam keadaan terkhitan. Namun kebanyakan manusia lahir dari perut ibunya dalam keadaan tidak terkhitan. Demikian pula keadaan mereka ketika keluar dari perut bumi pada hari kiamat nanti. Dalam keadaan tanpa alas kaki, yakni tanpa mengenakan sandal. Dalam keadaan telanjang bulat, yakni tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka. Dan dalam keadaan tidak bersunat, yakni tidak terkhitan. Ketika Nabi mengatakan yang demikian maka berkatalah ‘Aisyah: “Wahai Rasulullah, apakah lelaki dan wanita berkumpul menjadi satu? Kalau begitu mereka akan saling melihat?”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Wahai ‘Aisyah, perkara yang mereka hadapi saat itu terlampau besar sehingga tidak terbetik untuk saling melihat satu sama lainnya.”

Yakni, perkara yang dihadapi saat itu sangat berat, sehingga setiap orang lupa terhadap dirinya sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yangcukup menyibukkannya.” (QS. 80:37).

Apabila seseorang membayangkan keadaan saat itu, cukup sekedar membayangkannya saja, sudah membuatnya ciut dan takut.

Jika ia seorang yang berakal dan beriman, pastilah ia akan beramal untuk menghadapi hari itu. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirrnan:


وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

“Dan patuh kepada Rabb-nya, dan sudah semestinya bumi itu patuh (QS. 84:5).

Yakni, mendengarkan perintah Rabb-nya dan memang sudah semestinya bumi itu patuh. Sebelumnya bumi itu bulat, ada dataran tinggi dan ada dataran rendah, maka pada hari itu, semua diratakan seperti kulit yang digelar. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. 84:6)

Al Kaadih artinya orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh dengan menghadapi berbagai kesulitan. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “menuju Rabb-mu”, yakni engkau berusaha sungguh-sungguh, usaha yang menyampaikan dirimu kepada Rabb-mu. Usaha yang akan sampai kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.. Yakni, akhir dari usahamu itu hanyalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,, siapa pun dirimu dan apapun yang kamu usahakan. Karena kita semua akan mati, dan setelah mati kita akan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apa pun yang kita usahakan maka kesudahannya adalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan bahwasanya kepada Rabb-mulah kesudahan (segala sesuatu (QS. Al-Qamar: 42).

Oleh sebab itulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabb-mu”, hingga orang durhaka juga dianggap berusaha dan hasil seluruh usahanya adalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah berfirman:

”Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Karni-lah menghisab mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 25-26)

Hanya saja, ada perbedaan antara orang yang taat dengan orang durhaka. Orang yang taat melakukan usaha yang membuat Allah ridha, dengan usahanya itu ia menggapai keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada hari kiamat nanti. Sedang orang yang durhaka, melakukan usaha yang membuat Allah Subhanahu Wa Ta’ala murka. Walau begitu usahanya itu akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla. Jadi firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ

“Wahai manusia” meliputi orang mukmin dan kafir.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
Sesugguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabb-mu, maka kamu pasti akan menemuinya.” (QS. 84 : 6).
Huruf faa’ pada kata menurut ahli nahwu menunjukkan adanya tertib dan urutan. Yakni, engkau akan menemui-Nya tidak lama lagi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang,” (QS. Al-An’Am: 134)

Segala sesuatu yang akan datang pasti sudah dekat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?” (QS. As-Syuura: 17).

Jika Anda ingin tahu lebih jelas lagi bahwa pertemuan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah dekat, maka perhatikanlah apa yang sudah berlalu dari usiamu sekarang. Sekiranya engkau memiliki usia seratus tahun, maka seolah seratus tahun itu hanya sekejap saja. Segala sesuatu yang telah berlalu dari umur kita seakan hanyalah sekejap saja. Jadi pertemuan dengan-Nya sudah dekat.
Kemudian, apabila seorang insan mati, maka alam barzakh merupakan batas antara alam dunia dan alam akhirat sungguh sangat cepat, hanya sekejap saja. Apabila seseorang tidur dengan nyenyak, anggaplah ia tidur dua puluh empat jam kemudian bangun, maka ia merasakan seolah hanya tidur sesaat saja. Padahal ia sudah tidur seharian penuh. Apabila pada saat ruh berpisal jasad membuat waktu berlalu begitu cepat, lalu bagaimana pula setelah ruh keluar darinya dan disibukkan dengan nikmat atau adzab, maka waktu berlalu tanpa terasa olehnya sedikit pun. waktu yang berjalan pada saat kita terjaga tidak seperti saat kita tidur. Seseorang yang terjaga dari terbit matahari hingga tergelincir ia akan merasakan waktu berjalan demikian lama. Akan tetapi ketika ia lalui dengan tidur, maka seolah tidak terasa sedikit pun. Hamba yang Allah matikan selama seratus tahun kemudian bangkitkan kembali, lalu Allah katakan kepadanya:

“Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini? Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari (QS. Al-Baqarah: 259).

Demikian pula Ashhabul Kahfi, mereka tinggal dalam gua selama 309 tahun. Ketika mereka dibangkitkan kembali, mereka saling bertanya-tanya: “Berapa lamakah kalian tinggal di sini?” Mereka menjawab: “Kita tinggal di sini hanyalah sehari atau setengah hari saja.”
Ini membuktikan bahwa seorang insan akan heran, bukankah waktu sudah berlalu begitu lama atas orang-orang mati tersebut?
Kita jawab: Benar, tapi waktu yang lama itu seolah hanya berlalu sekejap saja. Sebab, keadaan seseorang setelah ruh berpisah dari jasadnya, baik herpisah secara keseluruhan (mali) maupun sebagian (tidur) tidaklah sama seperti ketika ruhnya masih bersatu dengan Ketika ruh masih bersatu dengan jasad, kita merasakan berbagai kesulitan, keruwetan, kecemasan, waswas serta hal-hal lain yang membuat waktu berlalu terasa begitu lama. Akan tetapi pada saat tidur, waktu seakan berjalan begitu cepat. Dan setelah mati, waktu berlalu lebih cepat lagi. Orang-orang yang sudah mati bertahun-tahun yang lalu seolah mereka baru mati pada hari ini. Sekiranya mereka dibangkitkan sekarang lalu ditanyakan kepada mereka: “Berapa lamakah engkau tinggal dalam kubur?” Niscaya mereka akan menjawab: “Hanya sehari atau setengah hari saja!”

Masalah ini mungkin sulit dipahami oleh sebagian orang. Namun sebenarnya tidak ada kesulitan, sebab meskipun sudah berlalu waktu yang lama atas penghuni kubur namun itu terhitung pendek. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: فَمُلَاقِيهِ “Kamu pasti menemui-Nya”, yakni dengan huruf faa’ di awalnya yang menunjukkan adanya tertib dan urutan. Betapa cepat waktu bertemu dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kemudian Allah membagi manusia menjadi dua golongan saat bertemu dengan-Nya:
- Golongan yang mengambil kitab catatan amalnya dengan tangan kanan.
- Dan golongan yang mengambil catatan amalnya dari belakang punggungnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (8)

“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, makaia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,” (QS. 84: 7-8).

Setalah menyebutkan bahwa setiap manusia melakukan usahanya masing-masing dalam perjalanannya menuju Allah, yakni ia berusaha sekuat tenaga dan seluruh usahanya itu akan kembali kepada-Nya, sebagaimana disehutkan dalam ayat:

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan urusan-urusan semuanya.” (QS. 11:123).

Setelah menyebutkan itu semua, Allah berfirman:


فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya.”(QS.84 : 7).

Ini merupakan isyarat bahwa semua manusia yang berusaha tadi ada yang diberi kitabnya dari sebelah kanannya, dan ada yang diberi dari belakang punggungnya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “diberikan”, yakni dengan kata kerja yang tidak disebutkan subyeknya, lalu siapakah yang memberikan kitab tersebut? Kemungkinan yang memberikan kitabnya adalah malaikat atau selainnya, kita tidak dapat memastikannya. Yang jelas ia diberi kitab dari sebelah kanannya, yakni ia menerimanya dengan tangan kanan. Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

“ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah”. (QS. 84:8)

Yakni, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghisabnya dengan memeriksa amalnya, Akan tetapi, pemeriksaan atasnya itu adalah pemeriksaan yang mudah. Tidak ada kesulitan di dalamnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memeriksa hamba mukmin seorang diri dan dia mengakui dosa-dosanya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata kepadanya: “Engkau telah melakukan ini dan itu!” Hamba mukmin tersebut mengakuinya dan tidak mengingkarinya. Lalu Subhanahu Wa Ta’ala berkata: “Aku telah menutupi dosamu di dunia dan pada hari ini Aku mengampunimu.”
Tidak syak lagi ini merupakan hisab yang ringan. Tampak padanya karunia Allah kepada hamba-Nya berikut kegembiraan dan berita gembira yang diterimanya. Yang menghisabnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. 88 : 25-26).
Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا

“Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” (QS. 84 : 9).

Ia kembali kepada sesama kaum beriman di jannah setelah dihisab dengan gembira, yakni gembira hatinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengabarkan bahwa rombongan pertama yang masuk jannah, wajah mereka seperti bulan purnama.
Kemudian setelah itu, mereka memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda. Ini menunjukkan kegembiraan hati mereka. Karena apabila hati gembira maka wajah akan ceria.
Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12)

“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (naar).” (QS. 84 :10-12).

Mereka inilah orang-orang yang celaka, waliyaadzu billah. Kitabnya diberikan dari sebelah belakang, bukan dari sebelah kanan. Dalam ayat lain di surat Al-Haqqah disebutkan:

“Adapun orang-orang yang diberikan kitab kepadanya dari sebelah kirinya,” (QS. 69: 25).

Ada yang mengatakan: “Orang-orang yang tidak diberi kitab dari sebelah kanan terbagi dua: Ada yang diberi dari sebelah kiri ada yang diberi dari arah belakang.” Namun, pendapat yang lebih mendekati kebenaran -wallahu a’lam- adalah: Sebenarnya mereka diberi kitab dari sebelah kiri, akan tetapi tangan mereka memelintir hingga mengambilnya dari arah belakang. Ini adalah isyarat bahwa mereka telah membuang Kitabullah ke pungung mereka. Jadi, mereka menerima kitab dengan tangan kiri kemudian tangannya memelintir ke belakang sebagai isyarat bahwa ia telah berpaling dari Kitabullah, tidak mempedulikannya dan tidak mengacuhkannya, serta menganggap tidak ada masalah untuk menyelisihinya.

Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا

“maka dia akan berteriak: “Celakalah aku!” yakni, ia berteriak sembari menyesali diri sendiri. Ia berkata: “Celakalah aku! Binasalah aku!” Dan kalimat-kalimat lain yang menunjukkan penyesalan. Akan tetapi, penyesalan tidaklah berguna lagi pada hari itu. Karena habis sudah waktu beramal. Waktu beramal adalah di dunia, adapun di akhirat tidak ada lagi amal, yang ada hanyalah pembalasan. Allah berfirman:


وَيَصْلَى سَعِيرًا

“Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala(naar).” Yakni, ia akan masuk ke dalam naar yang telah dinyalakan dan ia kekal selamanya di dalamnya karena ia kafir! Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا

“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” (QS. 84 :13).
Yakni, dahulu di dunia ia bergembira bersama kaumnya yang sama-sama kafir. Akan tetapi kegembiraan ini akan berakhir dengan penyesalan dan kesedihan terus menerus. Bandingkanlah dengan keadaan orang yang diberi kitab dari sebelah kanan: “dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira”sementara orang ini: “Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)”, Anda pasti dapat membedakan antara dua kegembiraan di atas. Kegembiraan orang yang diberi kitab dari sebelah kanan adalah kegembiraan yang abadi –semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan mereka-. Sementara kegembiraan orang yang diberi kitab dari arah belakang adalah kegembiraan yang semu dan fana. Dahulu ia bergembira di tengah kaum dan keluarganya, namun sekarang tidak ada lagi kegembiraan baginya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ

“Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali kepada Rabb-nya).” (QS. 84 :14).
Yakni, tidak akan kembali setelah mati. Oleh karena itulah mereka mengingkari hari pembalasan. Mereka berkata bahwa hari pembalasan itu tidak ada. Dan mereka juga berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur menjadi tanah?” ‘Sesugguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali kepada Allah’.”Allah membalasnya dengan firman-Nya:


بَلَى

“(Bukan demikian), yang benar…” (QS. 84 :15).
Yakni, ia akan kembali!


إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا

“sesungguhnya Rabb-nya selalu melihatnya.” (QS. 84: 15).

Yakni, ia akan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang selalu melihat amal perbuatannya dan akan menghisab dirinya dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya.

Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit At-ATibyan, Penerjemah Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari.

One comment on “Tafsir Surat Al-Insyiqaaq ayat 1-15

  1. Ping-balik: Tweets that mention Tafsir Surat Al-Insyiqaaq ayat 1-15 « أبوفقيه Amaz -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 26, 2010 by in Al Quran and tagged , , .

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 129,630 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: