أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Nama-nama Yang Makruh

Soal:

Sebutkan nama yang makruh diberikan kepada bayi yang baru lahir!

 

Jawab:

Nama-nama yang makruh mungkin dapat dikelompokkan sebagai berikut:

 

Pertama, dimakruhkan  memberi nama yang mengandung arti keberkahan (kebaikan) atau yang menimbulkan rasa optimis. Fungsinya agar tidak menimbulkan ganjalan dalam hati ketika mereka dipanggil sementara mereka tidak berada ditempat, sehingga dijawab: “Tidak ada.”

Seperti nama: Aflaha (beruntung), Naafi’ (bermanfaat), Rabaah (keuntungan), Yasaar (kemudahan) dan lain-lain. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalarn hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Ucapan yang paling disukai Allah ada empat: subhaanallah, al-hamdulillaah, laailaaha ilallaah dan Allahu akbar. Tidak mengapa mana yang lebih dahulu engkau sebutkan. Jangan kalian namai hamba sahaya (atau anak) kalian dengan nama Yasaar, Rabaah, Najiih dan Aflaha. Sebab apabila kamu bertanya, “Apakah ia ada?” Jika ternyata tidak ada maka akan dijawab, “Tidak ada.”[1]

Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata, “Nama yang termasuk makna ini seperti Mubaarak, Muflih, Khair, Suruur, Ni’mah dan yang sejenisnya. Makna yang tidak disukai Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada empat nama tersebut juga terkandung di dalam nama-nama di atas. Apabila ditanyakan, “Apakah khair (kebaikan) ada bersamamu? Apakah surur (kebahagian) ada bersamamu? Apakah ni’mat (nikmat) ada bersamamu? Jika dijawab: tidak ada! Tentu jawaban tersebut mengandung kesan sangat tidak baik, terkesan seperti ucapan sial, bahkan termasuk dalam kategori ucapan yang tidak disukai.

 

Kedua, termasuk nama yang dimakruhkan adalah nama yang mengandung makna tazkiyah (pujian terhadap diri sendiri), seperti Barrah (wanita yang baik dan berbakti) dan Mubaarak (yang diberkahi) padahal boleh jadi orangnya tidak demikian. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa tadinya Zainab bernama Barrah. Lalu ada yang mengatakan, “la memuji (menganggap suci) dirinya sendiri?” maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merubah namanya menjadi Zainab.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Muhammad bin Amr bin ‘Atha’, ia berkata, “Putriku aku beri nama Barrah. Lalu Zainab binti Abu Salamah berkata kepadaku, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melarang menggunakan nama ini. Dahulu aku bernama Barrah, lantas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Janganlah kalian memuji diri sendiri! Sesungguhnya Allah lebih mengetahui siapa yang baik di antara kalian?”

Lantas para sahabat bertanya, “Kalau begitu apa nama yang tepat untuknya? Beliau menjawah, “Beri dia nama Zainab!”

Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata, “Berdasarkan dalil-dalil ini maka makruh hukumnya memakai nama At-Taqi (yang bertakwa), A1-Muttaqi (yang bertakwa), Al-Muthi’ (yang taat), Ar-Rasyiid (yang ditunjuki), Ath-Thaa’i (yang taat), Ar-Raadhi (yang rela), Al-Muhsin (yang baik), Al-Mukhlis (yang tulus), Al-Muniib (yang kembali) dan As-Sadiid (yang benar).

 

Ketiga, makruh hukumnya memberi nama dengan kata benda, atau mashdar (asal kata) dan sifat musyabbah (yang menunjukkan paling) yang disandarkan kepada lafazh diin (agama) atau Islam, seperti nama Dhiyaauddin (cahaya agama), Nuuruddin (cahaya agama), Saiful Islam (pedang Islam), Nuurul Islam (cahaya Islam). Hal ini disebabkan lafazh ad-diin dan islam menempati posisi yang agung. Menggabungkan sebuah nama dengan kedua lafazh ini menjurus kepada dakwaan yang dusta. Oleh karena itu sebahagian para ulama mengharamkan, namun mayoritas lainnya mengatakan makruh.

Di antara contoh yang berlebihan dalam mengambil nama atau julukan adalah Zainul ‘Abidin (perhiasan orang-orang yang ahli ibadah). Orang-orang syi’ah rafidhah menyatakan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjuluki Ali bin al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib dengan julukan Sayyidul ‘Abidiin (penghulunya para ahli ibadah). Hadits ini tidak ada asalnya sama sekali, bahkan termasuk hadits palsu. Sebab Ali yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah seorang tabi’in. Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya julukan sementara beliau tidak pernah bertemu dengan Ali bin al-Hasan. Demikian yang disebutkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid - Hafizhahullah.

 

Keempat, makruh hukumnya memberi nama dengan nama yang arti atau lafazhnya mengandung kesan jelek atau negatif.

Seperti: Harb (perang), Murrah (pahit), Kalb (anjing), Hayyah (ular), Jahsy (kasar), Baghal (kuda poni atau keledai) dan yang semisalnya.

Ath-Thabari Rahimahullah berkata, “Tidak pantas memberikan nama dengan nama yang mengandung makna yang buruk dan tidak juga yang mengandung pujian terhadap diri sendiri atau yang mengandung makna celaan, sekalipun hanya untuk sekedar pengenal atau identitas seseorang, tidak dimaksudkan hakikatnya. Tetapi tetap saja ada sisi makruhnya, yaitu ketika nama tersebut disebutkan dan orang yang mendengarkan mengira bahwa sifat tersebut memang ada pada si pemilik nama. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengganti nama-nama tersebut dengan nama yang sesuai dengan  orangnya.” Pernyataan ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan dinukil oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam kitab Silsilatu Al-Ahaardits Ash-Shahihah (1/379). Kemudian beliau berkata, “Berdasarkan hal itu maka tidak boleh memakai nama ‘Izzuddin (kemuliaan agama), Muhyiddiin (yang menghidupkan agama), Naashiruddiin (penolong agama) dan lain-lain. Di antara nama jelek yang banyak dipakai orang sekarang dan harus segera diganti seperti: Wishaal (senggama), Sihaam (panah), Nehaad (gadis montok), Ghaadah (gadis yang lembut), Fitnah (daya tarik) dan yang semisalnya. Wallaahul musta’aan.

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Makruh hukumnya memberi nama dengan nama yang memberi kesan hewani atau berhubungan dengan syahwat. Nama-nama seperti ini banyak diberikan kepada anak-anak perempuan, contohnya: Ahlaam (impian), Ariij (wangi semerbak), ‘Abiir (yang menitikkan air mata), Ghaadah (gadis yang lembut), Fitnah (daya tarik), Wishaal (senggama), Faatin (yang menggiurkan), Syaadiyah (biduanita) dan lain-lain.

Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan berkata, “… dan penutup, hendaknya menghindari nama-nama yang memberi kesan bodoh, atau menyerupai orang kafir, atau mengandung makna kasmaran. Contohnya nama: Hiyaam, Haifaa’, Nihaad, Suusan, Miyaadah, Naariimaan, Ghaadah, Ahlaam dan lain-lain.

 

Kelima, makruh hukumnya sengaja memakai nama orang-orang fasik, tidak punya malu (bejad), artis, penari dan para musisi batil lainnya.

 

Keenam, makruh hukumnya memakai nama orang-orang zhalim dan diktator. Seperti nama: Fir’aun, Qaarun, Haamaan dan Al-Waliid.

 

Ketujuh, makruh hukumnya memberi nama dengan nama yang menunjukkan kepada dosa dan maksiat. Seperti nama Zhaalim (orang lalim) bin Sarraaq (pencuri). Dalam sebuah kisah yang shahih disebutkan bahwasanya Utsman bin Abil ‘Ash pemah membatalkan penobatan jabatan gubernur karena kandidatnya seorang yang memiliki nama seperti ini. Demikian yang tertera dalam kitab Al-Ma’rifah Wa at-Taariikh karya Al-Fasawi (III/201).

Di dalam kitab Shahih Muslim dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Abdullah bin Muthii’ mengabarkan kepada kami dari ayahnya, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda pada hari penaklukan kota Mekah:

“Mulai hari ini hingga hari kiamat nanti tidak ada seorang dari suku Quraisy pun yang dibunuh shabran (secara perlahan).”

Ia berkata, “Hari itu tidak ada seorang pun dari mereka yang bernama al-‘Ash yang masuk islam kecuali Muthii’ (orang yang taat) yang tadinya bernama (al-‘Ash bin al-Aswad al-Udzri), lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merubah namanya menjadi Muthii’.

Sekelompok ulama ada yang memakruhkan memakai nama para malaikat Alaihimussalam seperti: Jibril, Mikail, Israfil dan lain-lain. Adapun menamakan kaum wanita dengan nama para malaikat, maka sangat jelas keharamannya. Sebab hal itu menyerupai orang-orang musyrikin yang menyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah (ta’aalallah ‘an qaulihim). Senada dengan ini, memberi nama anak gadis dengan Malaak (malaikat) atau Mulkah. Demikian yang dijelaskan oleh Syaikh Bakar Abu Zaid.

 

Kedelapan, sebagian ulama memakruhkan memakai nama surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’an Al-Karim, seperti: Thaaha, Yaasiin. Adapun yang disebutkan oleh orang-orang awam bahwa Yaasiin dan Thaaha termasuk nama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah keyakinan yang keliru. Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim Rahimahullah.

Sumber: Ensiklopedi Anak, Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi, Penerjemah Ustadz Ali Nur, Penerbit Darus-Sunnah, hal. 227-231.

 

 


[1] Maksud hadits: misalnya apabila si hamba bernama si Rabaah (arti rabaah: beruntung), lalu dia ditanya, “Apakah Rabaah (keuntungan) ada di sana? Jika ternyata tidak ada maka akan dijawab, “Rabaah tidak ada (artinya tidak ada keuntungan).” Oleh karena itu nama seperti ini dimakruhkan. -pent.

 

About these ads

One comment on “Nama-nama Yang Makruh

  1. Ping-balik: Tweets that mention Nama-nama Yang Makruh « أبوفقيه Amaz -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 13, 2010 by in Fiqih and tagged , , , .

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 149,895 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: