أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Mengerjakan Shalat Fardhu Dengan Bermakmum Kepada Orang Yang Mengerjakan Shalat Sunnat (Nafilah)

Ada tiga keadaan yang mungkin terjadi dalam shalat berjama’ah:

Pertama: Imam dan makmum mengerjakan shalat yang sama secara lahir dan batin, misalnya sama-sama mengerjakan shalat Zhuhur atau Ashar.

Kedua: Imam dan Makmum mengerjakan shalat yang sama secara lahir namun berbeda secara batin, misalnya makmum mengerjakan shalat wajib sementara imamnya mengerjakan shalat sunnat.

Ketiga: Imam dan makmum mengerjakan shalat yang berbeda secara lahir maupun batin, misalnya imam mengerjakan shalat Maghrib sementara makmum mengerjakan shalat Zhuhur.

Dalam masalah ini alim ulama berbeda pendapat. Inti perbedaannya terpulang kepada masalah persyaratan kesesuaian antara imam dan makmum dalam perkara-perkara lahir dan batin atau kesesuaian itu dalam perkara lahiriyah saja bukan batin atau scbaliknya. Perbedaan pendapat ini berpangkal dari cara memahami sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

“Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti[1].

Dan juga kisah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu  yang mengimami kaumnya shalat setelah mengerjakan shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.[2]

Berikut ini akan kami sebutkan pendapat para ulam~a berkenaan

dengan masalah ini:

A-     Madzhab Hanafiyah dan Malikiyah dalam sebuah riwayat masyhur dari mereka berpendapat bahwa shalat imam dan makmum harus sama lahir maupun batin, orang yang mengerjakan shalat wajib tidak boleh bermakmum kepada orang yang mengerjakan shalat sunnat. Ini merupakan salah satu pendapat dalam madzhab Hambali.[3] Berdasarkan hal tersebut tnaka makmum harus mengulangi sha- latnya.

B-     Madzhab Syafi’iyah. Menurut mereka orang yang mengerjakan shalat sunnat boleh bermakmum kepada orang yang mengerjakan shalat wajib dan sebaliknya. Ini juga merupakan pendapat Zhahiriyah dan salah satu pendapat yang diriwayatkan dari madzhab Hambali, mereka membolehkan perbedaan secara batin antara imam dan makmum.[4]

Dalil-dalinya:

Kelompok pertama berdalil dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung dengan niatnya, dan setiap orang memperoleh sesuai dengan niatnya.”[5]

Dan dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

“Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti maka janganlah menye- lisihinya.”

Mereka memberikan jawaban terhadap kisah Mu’adz bahwa kemungkinan hal itu khusus bagi Mu’adz atau shalat yang dikerjakan Mu’adz bersama Rasulullah adalah shalat nafilah (shalat sunnat).

Oleh sebab itu, para ulama yang memilih pendapat ini membolehkan mengerjakan shalat sunnat bermakmum kepada imam yang mengerjakan shalat wajib berdasarkan jawaban yang mereka berikan terhadap kisah Mu’adz di atas. Mereka juga beralasan: Shalat makmum tidak ada kaitannya dengan niat imam. Imam tidaklah mewakili niat makmum. Oleh sebab itu tidak sah mengi­kuti imam sementara niat berbeda. Misalnya orang yang menger­jakan shalat Jum’at bermakmum kepada imam yang mengerjakan shalat Zhuhur.[6]

Kelompok kedua berdalil dengan riwayat Jabir Radhiyallahu Anhu tentang kisah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu bahwa ia mengerjakan shalat Isya’ bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu kembali kepada kaumnya dan mengimami mereka shalat Isya. Dalam sebagian riwayat disebutkan: “Shalat itu menjadi shalat sunnat baginya dan bagi kaumnya adalah shalat maktubah (shalat fardhu).”

Mereka juga beralasan bahwa niat imam dan makmum boleh saja berbeda demikian pula sebaliknya. Hal itu tidaklah membatal- kan keabsahan mengikuti imam tersebut, juga secara lahiriyah saja bo.leh berbeda. Alasannya:

Pertama: Shalat imam dan makmum tersebut sama sifatnya meskipun jumlah rakaatnya berbeda.

Kedua: Seorang makmum tidak boleh mengikuti shalat imam dengan niat menyelisihi imam. Mereka membawakan hadits: “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti” yakni berdasarkan kondisi yang lumrah terjadi.

Pendapat yang terpilih:

Pendapat yang terpilih adalah pendapat Zhahiriyah dan salah satu pendapat dalam madzhab Hambali, yaitu imam dan makmum harus sama dalam hal lahiriyah dan boleh berbeda dalam hal batin. Berdasarkan hal itu seorang makmum yang mengerjakan shalat Ashar tidak boleh bermakmum kepada imam yang mengerjakan shalat Zhuhur. Demikian pula seorang makmum yang menger- jakan shalat gerhana tidak boleh bermakmum kepada imam yang mengerjakan shalat Ied begitu pula sebaliknya. Makmum boleh berbeda dengan imam secara batin. Oleh karena itu orang yang mengerjakan shalat Zhuhur boleh bermakmum kepada imam yang mengerjakan shalat Ashar. Makmum yang mengerjakan shalat pada waktunya (adaa’) boleh bermakmum kepada imam yang mengqadha’ shalat. Makmum yang mengerjakan shalat fardhu boleh bermakmum kepada orang yang mengerjakan shalat sunnat, dan beberapa bentuk yang sejenis lainnya.

Mereka mengatakan hadits yang berbunyi: “Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti” bisa digabungkan dengan kisah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu di atas, yaitu tidak boleh menyelisihi imam dalam hal lahiriyah. Adapun perbedaan dalam hal batin dapat kita ambil pembolehannya dari kisah Mu’adz di atas. Sebab tidak ada jalan untuk mengorek niat seseorang karena termasuk perkara yang tersem- bunyi. Para mukallaf tidaklah dibebankan melainkan sesuatu yang bisa mereka ketahui. Maka dari itu syariat melarang perbedaan imam dengan makmum dalam hal lahiriyah. Oleh sebab itu pula Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits:

“Bertakbirlah jika imam bertakbir dan rukuklah bila imam rukuk…” Perkara-perkara batin tidaklah disebutkan dalam hadits tersebut.[7]4

dinukil dari buku “Bimbingan Lengkap Shalat Berjamaah”, Dr. Shalih bin Ghanim  as-Sadlan, Penerbit At-Tibyan.


[1] H.R A1-Bukhari I/179.

 

[2] H.R A1-Bukhari 1/172.

[3] Silakan lihat Tabyinul Haqaaiq I/141-142, Mawaahibul Jalil II/ 126 dan Al-Mughni II/126.

[4] Fathul Bari (II/195), Tabyiinul Haqaaiq (I/141-142) dan A1-Muhalla (III/411). 270.

[5] Sunan Abu Dawud II/651.

[6] Fatthu/Baari II/195, 7ahyiinu/Haqaaiq I/141 dan An-Niyyah I/465.

[7] Silakan lihat:

a-Kitab Muhalla karangan Ibnu Hazm Azh-Zhahiri II/411.

b-Niatkarangan penulis I/463-465.

One comment on “Mengerjakan Shalat Fardhu Dengan Bermakmum Kepada Orang Yang Mengerjakan Shalat Sunnat (Nafilah)

  1. Ping-balik: Mengerjakan Shalat Fardhu Dengan Bermakmum Kepada Orang Yang Mengerjakan Shalat Sunnat (Nafilah) « Indahnya Ajaran Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 30, 2010 by in Fiqih and tagged , , .

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 148,095 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: