أبوفقيه Amaz

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Ummu Kultsum Binti Ali Bin Abi Thalib

Seorang Bidan Muslimah

Beliau adalah Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan anak, memiliki kedudukan yang tinggi dan posisi yang luhur di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau juga putri Khalifah Rasyidin yang keempat. Kakeknya adalah penghulu anak Adam Alaihissalam. Ibu beliau adalah ratu wanita ahli surga. Fathimah binti Rasulullah Radhiyallahu Anha sedangkan kedua saudaranya adalah pemimpin pemuda ahli surga dan penghibur hati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dalam lingkungan yang mulia seperti inilah pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Ummu Kultsum dilahirkan, tumbuh, berkembang dan terdidik. Beliau adalah teladan bagi para gadis muslimah yang tumbuh di atas dien, keutamaan dan rasa malu.

Amirul Mukminin Umar bin Khathab AI-Faruq Radhiyallahu Anhu, Khalifah Rasyidin yang kedua mendatangi ayahnya untuk meminang beliau. Akan tetapi mulanya Imam Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu meminta ditunda karena Ummu Kultsum masih kecil. Umar Radhiyallahu Anhu berkata: “Nikahkanlah aku dengannya wahai Abu Hasan, karena aku telah memperhatikan kemuliaannya yang tidak aku dapatkan pada orang lain.”[1] Maka Ali meridhainya dan menikahkan Umar dengan putrinya pada bulan Dzulqa’dah tahun 17 Hijriyah, dan hidup bersama hingga terbunuhnya Umar Radhiyallahu Anhu. Dari pernikahannya mendapatkan dua anak yaitu Zaid bin Umar AI-Akbar Ruqayyah binti Umar.

Yang mengesankan pada Ummu Kultsum, istri dari Amirul inin, bahwa suatu ketika Umar keluar pada malam hari seperti biasanya untuk mengawasi rakyatnya (inilah keadaan setiap pemimpin yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya dalam naungan daulah islamiyah) , beliau melewati suatu desa di Madinah, tiba-tiba beliau mendengar suara rintihan seorang wanita yang bersumber dari dalam sebuah gubug, di depan pintu ada seorang laki-laki yang sedang duduk. Umar mengucapkan salam kepadanya dan bertanya kepadanya lentang apa yang terjadi. Laki-laki tersebut berkata bahwa dia adalah seorang badui yang ingin mendapatkan kemurahan Amirul Mukminin. Umar bertanya tentang wanita di dalam gubug yang beliau dengar rintihannya, Laki-laki tersebut tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah Amirul Mukminin, maka dia menjawab, “Pergilah anda semoga Allah merahmati anda sehingga mendapatkan apa yang anda cari, dan janganlah anda bertanya tentang sesuatu yang tak ada gunanya bagi anda.”

Umar kembali mengulang-ulang pertanyaannya agar dia dapat membantu kesulitannya jika mungkin. Laki-laki tersebut menjawab, “Dia adalah istriku yang hendak melahirkan dan tak ada seorangpun yang dapat membantunya.” Umar bertolak meninggalkan laki-laki tersebut dan kembali ke rumah dengan segera. Beliau masuk menemui istrinya yakni Ummu Kultsum dan berkata: “Apakah kamu ingin mendapatkan pahala yang akan Allah limpahkan kepadamu?” Beliau menjawab dalam keadaan penuh antusias dan berbahagia dengan kabar gembira tersebut yang mana beliau merasa mendapatkan kehormatan karenanya, “Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut wahai Umar?” Maka Umar memberitahukan kejadian yang beliau temui, kemudian Ummu Kultsum segera bangkit dan mengambil peralatan untuk membantu melahirkan dan kebutuhan bagi bayi, sedangkan Amirul mukminin membawa kuali yang di dalamnya ada mentega dan makanan. Beliau berangkat bersama istrinya hingga sampai ke gubuk tersebut,

Umrnu Kultsum masuk ke dalam gubug dan membantu ibu yang hendak melahirkan dan beliau bekerja dengan semangat seorang bidan. Sementara itu Amirul mukminin duduk-duduk bersama laki-laki tersebut di luar sambil mernasak yang beliau bawa. Tatkala istri laki-laki tadi

melahirkan anaknya, Ummu Kultsum secara spontan berteriak dari dalam rumah, “Beritakan kabar gembira kepada temanmu wahai Amirul Mukminin, bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya seorang anak laki-laki. Hal itu membuat orang Badui tersebut terperanjat karena ternyata orang di sampingnya yang sedang memasak dan meniup api adalah Amirul Mukminin.

Begitu pula wanita yang melahirkan tersebut terperanjat karena yang menjadi bidan baginya di gubug tersebut ternyata adalah istri dari Amirul Mukminin. Takjub pula orang-orang yang hadir menyaksikan realita yang berada dalam naungan Islam tersebut, yang mana seorang kepala negara dan istrinya membantu seorang laki-laki dan istrinya dari Badui.

Setelah berselang beberapa waktu lamanya, tangan yang berdosa dan dengki dengan Islam membunuh Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhu, sehingga Ummu Kultsum menjadi seorang janda.

Tatkala Ummu Kultsum         Radhiyallahu Anha wafat, Ibnu Umar menshalatkannya dan begitu pula putranya Zaid yang berdiri di sampingnya dan mereka berdua takbir empat kali.

Ya Allah ridhailah Ummu Kultsum seorang bidan muslimah.

Dinukil dari ”MEREKA ADALAH SHAHABIYAH, Kisah-kisah Wanita Mwnakjubkan Yang belum Tertandingi Hingga Hari Ini”, Mahmud Mahdi Al-Istanbuli & Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, Penerbit At-Tibyan


[1] Al-Ishabah Ibnu Hajar Al-Asqalani VIII/275.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 24, 2010 by in Biografi and tagged .

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 130,059 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: