أبوفقيه Amaz Blognya Abu Muhammad Faqih

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Amalan Yang Tertolak

عن عائشة رضي الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد.

“Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: “Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ‘Siapa saja yang mengada-ada tentang sesuatu dalam urusan (agama) kami, yang tidak kami perintahkan, maka hal itu ditolak’.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim)

Penjelasan:

Hadits Aisyah Radhiyallahu Anha ini hanya separuh ilmu karena amal perbuatan, bias bersifat lahir dan bias bersifat batin. Amal perbuatan batin ukurannyaadalah hadits Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “ Susungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya dan setiap orang tergantung kepada niatnya.” Sedangkan ukuran amal perbuatan lahir, ukurannya adalah hadits Aisyah ini, “Siapa saja yang mengada-ada tentang sesuatu dalam urusan (agama) kami, yang tidak kami perintahkan, maka hal itu ditolak.” Atau ditolak dari sisi pelakunya dan tidak diterima.

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “amrina” maksudnya adalah agama dan syariat kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al Quran) dengan perintah kami…”(Asy Syura:52)

Kata “amruna” dalam ayat ini berate juga syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Barangsiapa yang membuat di dalamnya   sesuatu yang bukan merupakan bagian darinya, maka dengan sendirinya dia tertolak.  Dalam hal ini terdapat dalil yang jelas bahwa ibadah jika tidak termasuk agama Allah, maka ibadah itu tertolak. Dari sini kita dapat mengambil faidah bahwa pengetahuan tentang ibadah itu hukumnya wajib karena ibadah mencakup syarat dan rukun, atau perkiraan terkuat jika tidak memiliki pengetahuan, seperti yang terjadi pada banyak hal. Misalnya kamu ragu berapa jumlah rakaat yang telah kamu lakukan dan menurut perkiraanmu kamu berada pada rakaat tertentu, maka tetapkanlah perkiraan  itu. Begitu juga thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali putaran. Jika menurut perkiraanmu kamu telah sampai pada jumlah tertentu, maka tetapkanlah perkiraanmu itu. Demikian juga dalam bersuci, jika kamu mengira bahwa kamu telah menyempurnakan wudhu, ya sudah!

Yang jelas dalam ibadah harus ada pengetahuan atau perkiraan yang kuat jika nash-nash menunjukkan kecukupannya. Jika tidak maka ibadah itu tertolak. Jika ibadah itu tertolak, maka diharamkan bagi manusia beribadah dengannya. Jika dia beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan ibadahyang tidak diridhai-Nya dan tidak disyariatkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, sama saja tindakan itu dengan mengejek Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Na’udzu billah!

Bahkan sebagian ulama berkata,”Jika seseorang mengerjakan shalat baru yang diciptakannya sendiri secara sengaja, maka dia telah keluar dari Islam karena dia telah menghina Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lain halnya dengan orang yang lupa, maka tidak ada dosa baginya.”

Kalimat kedua dari hadits itu adalah:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak Kami syariatkan maka dia dengan sendirinya tertolak.”

Hadits ini lebih tegas daripada yang pertama karena dalam hadits ini mengharuskan pengetahuan, yaitu segala amal ang kita kerjakan harus berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika tidak, maka amalan itu tertolak. Hal ini mencakup masalah ibadah dan mu’amalah. Oleh karena itu, jika orang menjual barang yang rusak atau menggadaikan suatu barang yang rusak atau mewakafkan sesuatu yang rusak, semuanya tidak sah dan ditolak serta tidak boleh dilaksanakan.

Syaikh Muhammad Al Utsaimin, Syarh Riyadhus Shalihin, penerbit Darul Falah, Cetakan pertama, hal.803-804

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 1, 2010 by in Bid'ah, Hadits and tagged , .

Kategori

Arsip

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.

Blog Stats

  • 152,254 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: