أبوفقيه Amaz

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ به طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Shalat Dengan Sarung Musbil (Melebihi Mata Kaki)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu dia berkata : “Ketika ada seorang lelaki yang shalat degan mengenakan sarung secara isbal, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepadanya : ‘Pergilah dan ambillah air wudhu!’ Lelaki itu pun pergi dan berwudhu lagi. Kemudian dia kembali datang dan Rasulullah kembali bersabda : “Pergilah dan ambillah air wudhu!” Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :”Wahai Rasulullah, mengapa Anda menyuruhnya mengambil air wudhu lagi?” Beliau diam untuk beberapa saat, kemudian bersabda :”Sesungguhnya tadi dia melakukan shalat, sedangkan dia memakai sarug dengan musbil (isbaal atau menurunkan kain sarungnya sampai ke bawah mata kaki). Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat seorang laki-laki yang memakai sarung dengan cara musbil.”(Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab Ash Shalah : Bab al Isbaal fii ash Shalah (I/172) nomor 638 dan di dalam Kitab Al Libas : Bab maa jaa’a fii isbaal al izaar (IV/57) nomor 4086), Imam Ahmad di dalam Al Musnad (IV/67), an Nasaa-I di dalam kitab as Sunan al Kubra pada kitab al ziinah ebagaimana di dalam kitab Tuhfah al Asyraf (XI/188 ).

An Nawawi berkata di dalam Riyadhush Shalihin nomor 795, dan al Majmu’ (III?178) dan (IV/457) :”Hadits itu berkualitas shahih menurut syarat Muslim.”

Hl ini sesuai dengan perkataan adz Dzahabi di dalam al Kabaa-ir, halaman 172 pada pembahasan al kabiiratuts Tsaniyah wal khamsin :isbaal al izaar ta’azzuzan wa nahwahu.

Dari Abdullah ibn Amr Radhiallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :”Allah tidak (akan) melihat shalat seseorang yang melepaskan sarungnya (sampai ke bawah atau musbil) dengan perasaan sombong.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam as Shahih (I/382). Dia juga membuatnya dalam bab tersendiri, yakni bab alt Taghlidz fii isbaal al iazaar fish shalah. Dia berkata : “Para ulama berbeda pendapat mengenai sanad hadits ini. Sebagian mereka berkata bahwa sanadnya berasal dari Abdullah ibn Amr. Aku mengeluarkan bab ini dari kitab al libas.”)

Dari ibn Mas’ud Radhiallahu Anhu dia berkata : aku telah mendengar Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :” Barangsiapa memusbilkan sarungnya ketika shalat karena sombong, maka dia tidak perlu (lagi melakukan perbuatan) halal atau haram di mata Allah (artinya Allah tidak peduli lagi kepadanya).” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab ash Shalah : bab al Isbaal fii ash Shalah (I/172) nomor 637. Hadits ini juga ada di dalam Shahih al Jami’ as Shughra nomor 6012).

Artinya bahwa orang itu tidak lagi bermanfaat apakah dia melakukan perbuatan yang halal maupun yang haram. Dia benar-benar tidak lagi diperhatikan oleh Allah. Allah tidak akan lagi menoleh kepadanya.

Ada yang mengatakan bahwa lafadz hadits itu adalah : “Dia tidak sedikitpun termasuk di dalam agama Allah.” Artinya bahwa dia terlepas dari tanggungan Allah Ta’ala dan telah meninggalkan agama-Nya.(Lihatlah dalam Badzlu al Majhuud fii hill Abu Dawud (IV?297) Faidh al Qadir (IV/52), Tanbiihaat Hammaah ‘ala Malaabis al Muslimin al Yaum, halaman 23, dan al Majmu’ (III/177).

Hadits di atas menunjukkan bahwa melepaskan sarung sampai ke bawah ketika shalat adalah haram hukumnya jika dilakukan dengan niat sombong. Pendapat ini juga dipilih oleh ulama Syafi’iyah dan Hanabilah.

Jika memakai sarung dengan isbaal tanpa niat sombong maka hukumnya makruh. (Kami telah menjelaskan bahwa memakai sarung dengan isbal adalah haram baik dengan sombong ataupun tidak, sebagaimana yang kami sebutkan dalam kesalahan terdahulu. Sebab meskipun dia tidak melakukannya dengan niat sombong, akan tetapi itu bisa mengantar kepada perasaan buruk tersebut. Lihat keterangannya secara ringkas di dalam Majmuu’ al Fataawa karya Ibnu Taymiyah (XX/144), Fathul baari (X/259), Awnul Ma’buud (XI/142), Risalah Tabshiir Uulil Albaab bimaa Jaa’a fii jar al tsiyaab karya Sa’ad al Mu’zil dan risalah al Isbaal karya Abdullah as Sabt.) pendapat ini seperti yag dipegang oleh ulama Syafi’iyyah. (Tanbiihat Haamah, halaman 23, al Majmu’ (III/177) dan Nailul Authar (II/112)).

Al Syaikh Ahmad Syakir berkomentar tentang masalah ini di dalam kitab hasil tahqiqnya terhadap karya Ibn Hazm yang berjudul al Muhalla. Dia berkata: “Kemudian pengarang kitab meninggalkan sebuah pembahasan yang malah terkadang menjadi dalil kuat untuk batalnya shalat seorang musbil ketika mengerjakannya dengan perasaan sombong.” Kemudian beliau menyebutkan hadits yang pertama dan kemudian berkata : “Hadits tersebut berkualitas sahih.”

An Nawawi berkata dalam kitab Riyadhush Shalihin :”Sanad hadits di atas berkualitas sahih menurut syarat Muslim.” (Komentar Ahmad Syakir atas al Muhalla (IV/102).

Ibnul Qayyim mensyarahi hadits yang pertama sebagai berikut : “Pengetian yang dapat diambil dari hadits ini – wallahu a’lam- bahwa memakai sarung denan isbaal adalah maksiat. Dan setiap orang yang terjerumus dalam perbuatan maksiat maka dia akan diperintahkan untuk mengambil air wudhu dan shalat. Karena sesunggunya berwudhu itu dapat memadamkan nyala api maksiat.”(at Tahdzib ‘alaa Sunan Abi Dawud (VI/50)).

Boleh jadi rahasia perintah rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada orang itu untuk berwudhu lagi, padahal dia dalam keadaan tidak berhadats, agar dia bisa berfikir sebab dari perintah terebut. Dengan demikian dia bisa menghentikan perbuatan yang bertentangan (dengan syariat Rasulullah). Sesungguhnya berkat perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada orang tersebut  agar ia mensucikan batinnya dari dosa yang besar. Karena kesucian lahir bisa berpengaruh pada kesucian batin. (Dikatakan oleh at Thayyibi dalam kutipannya dari al Qari’. Lihat Badzl al Majhuud (IV/296), Daliil al Faalihiin (III?2852), ad Diin al Khaalish (VI/166) dan al Mahal al ‘Adzb al Mawruud (V/123)).

Di dalam kitab ini dia menambahkan penjelasan sebagai berikut : “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan orang itu untuk berwudhu yang kedua kalinya ketika shalat dalam keadaan musbil, karena dia masih belum bisa menagkap maksud Rsulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada perintah kali pertama. di dalam hadits tersebut juga diketahui bahwa orang yang shalat dalam keadaan musbil, maka shalatnya tidak diterima. Tidak seorang pun di antara para imam yang mengatakan hal ini, karena memang kualitas haditsnya dhai.”

Dan yang sangat perlu disebutkan di sini bahwa isbal dapat terjadi baik ketika memakai celana, sarung maupun gamis.” (Makmuu’ al Fataawa (XXII/133) karya Ibnu Taymiyah).

Maka orang yang sedang shalat “hendaknya memperhatikan benar keadaan pakaian yang sedang dikenakan. Jika pakaian tersebut terurai sampai ke bawah (isbal) maka hendaklah segera diangkat. Sebab orang yang segera menarik pakainnya ke atas tidak diklasifikasikan sebagai orang yang sombong, sebab dia tidak sengaja memusbilkannya. Jelaslah bahwa kejadian seperti ini dimaklumi adanya.

Adapun orang yang sengaja mengurai bagian bawah bajunya, baik yang dipakai itu sarung, celana maupun gamis, maka dia termasuk dalam ancaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dia tidak dimaklumi ketika memusbilkan pakaiannya. Jadi kesimpulannya, setiap orang muslim harus menghindari isbal dan hendaklah perbuatan terebut didasari rasa takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hendaklah dia juga tidak menguraikan pakaiannya sampai di bawah mata kaki sebagaimana pelajaran yang didapatkan dari hadits-hadits sahih untuk menghindari murka dan siksa Allah. Hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sajalah kia memohon taufik.” (Di dalam dua paragraph yang diapit dengan tanda kutip di atas adalah perkataan  yang mulia syaikh Bin Baaz rahimahullah sebagai jawaban terhadap hukum memanjangkan baju dengan tanpa didasari rasa sombong. Juga sebagai jawaban erhadap pertanyaan bagaimana hukum orang yang terpaksa melakukan hal terebut, baik karena paksaan dari pihak keluarga ketika dia masih kecil, atau karena tradisi yang berlaku seperti demikian).

Dikutip dari majalah ad Dakwah edisi 920 dan Fataawa karengan beliau sendiri, halaman 219.

Fatwa tentang ahli bid’ah atau pmemusbilkan sarungnya ketika menjadi imam shalat. Dikaluarkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz :

Beliau yang mulia rahimahullah ditanya : “Apakah sah shalat di belakang (berkamum kepada) orang ahli bid’ah atau orang yang memusbilkan sarungnya?”

Beliau menjawab dengan redaksi sebagai berikut : “ Shalat dengan bermakmum kepada orang ahli bid’ah atau di belakang orang yang memusbilkan sarungnya, atau bermakmum kepada orang yang melakukan maksiat lainya adalah tetap sah, menurut pendapat para ulama yang paling sahih. Keabsahan shalat itu dengan syarat jika bid’ah yang dipercayai orang yang menjadi imam shalat terebut tidak sampai membuatnya kafir, yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, seperti misalnya orang yang berfaham jahmiyah. Jka bid’ah yang diyakininya bisa mengeluarkannya dari Islam, maka shalat di belakang mereka hukumnya adalah batal.”

Akan teapi wajib bagi semua orang yang bertanggungjawab untuk melimpahkan imamah (kepemimpinan, baik dalam shalat maupun urusan duniawi-pen.) kepada orang yang terbebas dari unsur-unsur bid’ah. Selayaknya imamah dipasrahkan kepada orang yang tidak fasik (melakukan dosa besar) dan bersih jalan hidupnya. Karena tugas imamah merupakan sebuah amanah yang sangat besar. Seorang imam harus mampu menjadi preseden baik (uswah hasanah) bagi seluruh kaum muslimin. Orang yang ahli bid’ah dan fasik tidak boleh diangkat sebagai imam jika masih ada orang lain yang bisa dipilih.

Isbal termasuk perbuatan maksiat yang wajib dijauhi dan ditinggalkan. Sebab Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda :”Sarung yang melebihi kedua mata kaki, maka pelakunya di dalam neraka.” (hadits diriwayatkan oleh al Bukhari di dalam kitab shahihnya). Diriwayatkan oleh al Bukhari di dalam kitab al Libaas : Bab Maa Asfala min al Ka’bain yahuwa di al naar (X/256) nomor 5887. An Nasaa-I dalam kitab al Ziinah : Bab Maa tahta al Ka’bain minal Izaar (VIII/207).


Sedangkan busana selain sarung, seperti gamis, celana dan lain sebaginya hukumnya sama saja dengan seperti sarung jika dipakai secara isbal.

Telah diriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau telah bersabda : “Ada tiga kelompok orang yang tidak diajak bicara Allah dan tidak akan dilihat pada Hari Kiamat nanti. Allah tidak membersihkan mereka dan mereka akan mendapatkan adzab yang pedih : orang yang memusbilkan sarungnya, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang mendistribusikan (menjual) barangnya dengan sumpah palsu.” (hadits ini diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab sahihnya. Qiriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab al aiman : Bab Bayan ghaldz tahriim isbaal al Izaar (I/102) nomor 106, Abu dawud didalam kitab Al Libas:Baab Maa Jaa’a fii isbal al Izaar (IV/257) nomor 4067, al Tirmidzi di dalam Abwab al Buyuu’: bab Maa Jaa’a fiiman halafa sil’ah kaadziban (III/516) nomor 1211, An Nasaa-I di dalam kitab al Buyuu’: Bab Munfiq sil’atah bi al half al kaadzib (VII/245), Ibnu Majah di dalam kitaab al Tijaaraat : bab Maa Jaa’a fii karohiyyah al aiman fii al syiraa wa al bai’ (II/744-745) nomor 2208 dan al Thayaalisiy di dalam al Musnad nomor 467.

Jika menarik sarung aau jenis pakaian lain sampai melebihi kedua mata kaki dengan didasari rasa sombong adalah menyebabkan dosa yang sangat besar dan lebih dekat dengan siksa, maka itu semua karena didasarkan pada sabda Rasululah Shallallahu Alaihi Wasallam : “Barangsiapa yang menarik pakaiannya dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat nanti.”(Penjelasan tentang takhrij hadits ini telah dibahas pada pembahasan terdahulu).

Yang wajib bagi setiap muslim adalah menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik itu larangan untuk isbal atau perbuatan-perbuatan maksiat lainnya. (dikutip dari majalah al Dakwah edisi 913).

Nasehat inilah yang sebenarnya murni karena dorongan dan keinginan kuat dari pribadiku (penulis buku ini, red.) agar umat selamat, sekalipun mungkin tidak begitu menyenangkan untuk didengar baik oleh kita maupun bagi orang-orang yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya. Sebab sudah terlalu banyak tanda-tanda penyimpangan yang dilakukan oleh kaum pria maupun wanita yang kita lihat bersama.

Telah banya kita saksikan kaum pria yang memanjangkan pakaiannya sampai menyentuuh tanah. Namun sebaliknya kaum wanita malah maminikan model busana yang dipakai, dan mengumbar kepala, leher dan dadanya terbuka. Mereka berjalan di luar rumah dengan parfum dan perhiasan yang bisa mengundang fitnah. Mereka benar berbusana, akan tetapi sama dengan telanjang, memamerkan perhiasannya dan mempertontonkan seluruh anggota badannya kepada semua orang yang melihatnya, baik yang ada di dekatnya maupun mereka yang berada di kejauhan. Laa haula wa laa quwwata illaa billah.

Dinukil dari kitab Qoulul Mubiin fi Akhtho-ul Musholliin, Syaikh Masyhur Hasan Salman, Edisi Indonesia Koreksi Total Ritual Shalat, penebit Pustaka Azzam.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 28, 2009 by in Fiqih and tagged , , , , .

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 129,587 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: